Kemenangan tipis yang diraih Persib di penghujung pertandingan membuat para bobotoh sumringah bahagia. Tetapi kebahagiaan itu memiliki cacat dan sekaligus duka mendalam.
Sebagai penikmat sepak bola, baik virtual maupun nyata, tentu saya merasa prihatin dengan kejadian kemain malam. Tragis dan amat disayangkan, dalam video itu ada aksi anak-anak yang ikut memukuli korban.
Jelas ini tindakan biadab. Penduduk Indonesia yang terkanal dengan budaya senyum dan keramahannya ini, harus mengajarkan seorang anak kecil terlibat dalam kasus pembunuhan. Mau jadi apa ia kelak ketika dewasa?
Kepada para pemakai dunia maya, stop menebar video tersebut, jika anda melakukan hal demikian, berarti secara tidak langsung ikut mengajarkan budaya kekerasan pada orang lain. So, cukup tahu dan biarkan pihak terkait yang menanganinya.
Kira-kira siapakah orangtua si anak tersebut? Apakah yang dirasakan orangtuanya ketika menyaksikan video tersebut dan melihat aksi anaknya ketika itu? Secara tidak langsung, sebagai orang tua, tentu telah gagal mendidik anak.
Sekali lagi sangat disayangkan dan tidak sepatutnya terjadi. Apa sih yang didapatkan dari yang namanya supporter? Alih-alih mempertahankan harga diri, harga diri yang mana? Harga diri siapa?
Yuk bebenah diri. Semua kudu belajar dewasa dan berpikir jernih. Saya sepakat dengan kalimat akhir Kang Emil, "Jika harus berakhir dengan nyawa, mendingan tak usah ada laga..."
___



Tidak ada komentar: