Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah [09] : 108)
Jika kita lihat dan kita bandingkan, tentu perayaan tahun baru masehi dan tahun baru hijriah tidak sama. Tahun baru hijriah yang sejatinya milik kita (umat Islam) seolah sepi dari penyambutan, atau bahkan ada yang tidak tahu dan biasa-biasa saja. Tetapi jika peringatan tahun baru masehi, hampir semua bisa dipastikan ikut bereforia merayakannya. Sambutan suara mercon, kembang api dan bahkan hal-hal yang sifatnya sia-sia pun mereka lakukan.
Semoga diamnya umat Islam yang tidak terlalu riuh merayakan tahun baru hjriah ini, lebih kepada pambaruan niat dan dibuktikan langsung dengan tidankan nyata. Tindakan hijrah yang diniatkan tidak sekedar hanya di status dunia maya, melainkan dituangkan dalam kehidupan sehari-hari. Harapan inilah yang sejatinya menjadi inti dari merayakan tahun baru hijriah ini. Perayaan yang dilakukan lebih kepada pengajian dan jelas tujuaanya ibadah, jelas ini lebih baik dari perayaan lainnya.
Perayaan tahun baru hijriah juga, jika kita telusuri dari sejarahnya, tentu bukan melalui proses yang sembarangan. Kenapa tidak dipilih dari kelahiran Nabi Muhammad saw dan sekaligus peristiwa penyerbuan tentara gajah ke Kabah? Atau dipilih tanggal ketika wafatnya Rasulullah? Lalu, kenapa yang dipilih itu ketika proses hijrah Nabi ke Yatsrib? Inilah yang harus kita dalami dan kita renungi bersama.
Ketika nabi sudah menaklukan kota Mekah maka tidak lagi ada perintah hijrah. Dengan kata lain perintah hijrah sudah ditutup. Makna yang dimaksudkan nabi tentunya adalah hijrah fisik yang menunjukan perpindahan dari satu kota ke kota yang lain karena penindasan. Atau juga secara tidak langsung, itu adalah salah satu bentuk jaminan dari Nabi Muhammad bahwa hidup di Mekah tidak ada lagi penganiayaan dan penyiksaan. Semua bisa hidup dengan damai dan tentram di sana.
Kisah Masa Lalu
Banyak sumber sejarah yang menuliskan bahwa penentuan awal hijriah merupakan di masa Umar ra. Fakta ini juga tidak sepenuhnya salah. Tetapi Umar ra bukan orang yang pertama merumuskan ini. Khalifah Abu Bakar Asshiddiq juga pernah merancangnya ketika masa jabatannya sudah mencapai dua setengah tahun. Imam as-Suyuthi mengatakan bahwa Rasulullah sudah menggunakan hitungan bulan hijriah ini. Ketika itu beliau meminta Ali ra untuk menuliskan surat kepada umat nasarani di Narjan dengan dibubuhi kalimat "Surat ini ditulis pada hari kelima sejak hijrah" wallahu'alam. Inilah sekelumit sejarah penanggalan hijriah.
Pada masa itu faktanya Nabi diintimidasi dan diancam akan dibunuh ketika berdakwah di Mekah. Rupanya dakwah Nabi yang ditolak di Mekah ini, sampai kepada orang-orang Yatsrib dan mereka meminta dibaiat oleh Nabi dan merka pula meminta Nabi untuk ikut bersama mereka pergi ke Yatsrib. Rupanya niatan itu sudah ada dari Nabi dan lantas tidak langsung mengikuti saran mereka. Hingga suatu ketika, hijrah ke Yastrib itu menjadi kenyataan.
Setelah itu pula, kota Yatsrib berubah namanya menjadi Madinah an Nabi (Kota Nabi). Perubahan nama yang baik merupakan sebuah itikad baik pula. Mungkin ini pula yang melatarbelakangi perubahan nama. Seperti ada mualaf yang baru pindah dari agama masa lalunya dan memeluk islam, maka hal yang pertama setelah syahadatain, namanya juga diubah. Inilah sebuah langkah nyata yang terjadi ketika nabi tiba ke Yatsrib kala itu.
Tantangan dakwah Nabi ketika itu cukup jelas. Mengajak mereka yang lalai dari menyembah Allah dan lebih memilih menyembah patung-patung. Dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya jelas-jelas nyata. Program mereka mengajak manusia yang menganut paganis agar kembali ke tahuid. Bahasa mudahnya, mengajak yang belum islam agar memeluk islam. Sebab yang mereka sembah hanyalah patung yang tidak memberikan manfaat dan madarat bagi mereka sendiri. Ritual nenek moyang yang tidak perlu dipelihara apalagi dijaga.
Itulah Islam, hadir sebagai agama yang memberikan dampak positif bagi manusia. Kebiasaan mereka membunuh anak permpuan dan menguburnya hidup-hidup, ditentang oleh islam. Kedudukan antar laki-laki dan perempuan sama. Pada saat itu budaya kebersihan tidak terlalu diutamakan, nabi hadir dengan kebiasaan hidup bersih yang dilakukanya. Bersiwak adalah contoh nyata yang dilakukan nabi.
Kisah Masa Kini
Perubahan zaman begitu terasa. Apalagi perubahan itu ditandai dengan merabahnya dunia maya sebagai ajang konsumsi manusia masa kini. Tentu hal ini tidak dirasakan oleh manusia yang hidup di masa lampau. Atau kira, kira dua puluh tahunan yang lalu. Percepatan masa atau transformasi masa yang begitu sangat cepat. Apa-apa serba cepat dan jika kita tidak tidak ikut seharian saja, maka seolah kita telah tertinggal informasi jauh banget. Inilah masa kini.
Orang lebih senang dengan dunia maya, sibuk dengan hal-hal yang tidak nyata. Mereka rela berjam-jam hanya dengan gawai dan membaca status orang lain. Padahal jelas itu tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu. Jika orang dulu sibuk membaca karya orang (buku dan tulisan lain yang panjang-panjang) saat ini orang lebih tertarik kepada teks-teks yang pendek. Jelas ini perubahan yang sangat jauh berbeda yang dapat kita rasakan perubahannya. Saama-sama membaca karya orang, tetapi teksnya tidak sepenjang dahulu. Kira-kira ini kemajuan atau malah kemunduran? Atau inilah fenomena saat ini, bukan untuk dibandingkan!
Dakwah yang dilakukan oleh nabi tentu tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh umat saat ini. Esensi dakwahnya sama, hanya metode dan pendekatannya yang berbeda. Sehingga pendakwah harus memiliki cara-cara yang terbaik untuk menyampaikan dakwahnya tersebut, agar diterima dengan baik pula.
Bedanya dengan zaman Nabi, berhala yang dulu itu fasif atau berupa patung, kini berubah menjadi sesuatu yang seolah hidup. Misalnya saja handphone, media sosial, makae-up, follower, harta, jabatan, dan lain sebagianya. Inilah berhala yang nyata dan saat ini berada dihadapan kita. Bagi yang tidak terpengaruh dengan hal di atas, tentu tidak masalah. Tetapi dari sekian banyak yang disebutkan di atas tadi, tentu yang namanya manusia saat ini pasti memiliki kecondongan ke salah satunya.
Jika mengutip kalimat ustadz Salim A. Fillah (di acara 'Inilah Jalanku') beliau menyampaikan bahwa "Jalan dakwah itu berat, penuh rintangan, terjal dan banyak masalahnya". Meski demikan, tentu balasannya juga akan setimpal dengan prosesnya. Janji Allah itu pasti.
Kisah Masa Depan
Hidup di masa depan, tidak bisa kita prediksi akan seperti apa gilanya. Tetapi sejatinya, kita dapat meraba nanti akan seperti apa di kehidupan yang akan datang ini. Toh saat ini saja sudah segila ini, apalagi nanti. Tentu akan lebih gila lagi dan lebih dahsyat kegilaan yang terjadi di muka bumi ini. Bukan tidak mungkin pula semangat untuk hijrah ini pula akan semakin memudar atau bahkan hilang sama sekali. Naudzubillah min dzalik.
Momentum peringatan hijriah itu dimaknai sebagai sebuah nilai dan syarat akan pelajaran yang besar. Sehingga kita yang sering lalai, menjadi ingat akan identias siapa kita ini. harapannya dengan kembali mengingat sejarah hijrah nabi, mampu mengembalikan semangat keislaman dan keagamaan kita untuk lebih rajin beribadah mendekat kepada Allah swt. Untuk itu, semangat tahuan baru hijrah itu harus terus dimaknai sebagai ajang untuk berhijrah ke arah yang labih baik.
Dengan demikian, berubah menjadi baik itu tidak mesti harus menunggu satu tahun dulu. Tetapi setiap hari harus diperbaharui, bahkan setiap detik pun semangat itu harus terus digulirkan dalam hela nafas kita. Sehingga semangat beribadah dan ketaatan kepada sang khaliq itu selalu dipupuk dengan baik. Bukankah memperbaharui niat dan keimanan itu selalu dianjurkan? Jika tidak dengan semangat seperti ini, lalu dengan cara apa menyadarkan orang yang sedang lalai?
Maka harus ada sesuatu yang baru untuk ditawarkan. Sesuatu yang sifatnya tidak kaku apalagi membosankan, merupakan tantangan tersendiri bagi penerbar dakwah kebaikan. Oleh karena itu, cara dan ide kratif harus digunakan, asal tidak keluar dari koridor dan tetap mengamalkan esensi dari surat an-Nahl ayat 125 : "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..."
Waktu itu hanya berjalan kedepan, tidak dapat mundur ke belakang, sehingga tidak ada gunanya terus meratapi penyesalan. Lakukan perbaikan, dan belajarlah dari kesalahan. Menjawab pertanyaan di atas, kenapa tahun baru hijriah itu diambil dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw? Selain usulan dari Ali bin Abi Thalib, ternyata proses hijrah Nabi merupakan peristiwa yang besar dan sangat mashur serta tidak menjadi perdebatan kala itu. Proses hijrah itu pula merupakan jati diri umat Islam yang sesungguhnya, yang meletakkan garis tegas antara hak dan yang bathil. Allahu'alam bishawab.
Amir Hamzah
Ngaji di UII
Amir Hamzah
Ngaji di UII



Tidak ada komentar: