Padahal saya tidak terlalu suka minum kopi. Tapi, saya jatuh cinta dengannya. Kopi itu merupakan analogi yang tepat untuk mendeskripsikan dunia ini, menurut saya. Kopi itu pahit, sama seperti dunia ini yang isinya pahit. Rasanya manis, bila kopi dicampur dengan gula, sehingga rasanya menjadi nikmat.
Kopi adalah hidangan yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Minuman ringan yang sangat cocok diminum kala santai, ngobrol-ngobrol bahkan sedang galau. Kopi cocok diminum oleh siapapun. Apalagi, kopi itu terasa nikmat jika diminum kala cuaca dingin, hujan dan pagi hari.
Kopi menjadi sajian wajib bagi mereka yang terbiasa ngopi di pagi hari. Dengan ditemani gorengan atau makanan khas daerah, semisal nasi ketan, pancong, dan lain-lain, sehingga kopi begitu nikmat dan sulit untuk dilupakan.
Ada tiga tipe penikmat kopi dalam penyajiannya. Pahit, manis dan tidak terlalu manis. Nah, kamu masuk tipe yang mana nih?
Secangkir Kopi
“Menggengam dunia, seperti menggengam segelas kopi di pagi hari…” Kata-kata ini saya ciptakan sebagai analogi saja, tujuannya ialah untuk menjadikan dunia ini tak lebih dari sekedar kopi yang kita minum. Kopi yang manis tentu harus menggunakan campuran bahan lain. Bagi yang tidak suka rasa manis, cukup diseduh dengan air mendidih.
“Menikmati hidup, seperti menikmati segelas kopi di pagi hari…” Kadang orang merasa berat menjalani hari-harinya. Entah itu karena tekanan atau pun motivasi hidupnya kurang. Jika ditelisik lebih dalam, tentu kita akan mengetahui sebesar apa sih tujuan hidup kita di dunia ini?. Cukup nikmati dan jalani!
Hidup itu rasanya manis dan pahit. Ada yang bilang nano-nano (semua rasa ada). Terlepas dari itu semua, hidup itu bagi saya, ibarat secangkir kopi. Tergantung selera masing-masing, mau manis ya tinggal tambahkan gula, kalau mau pahit ya tidak usah pakai gula. Atau kalau suka kopi yang tidak terlalu manis, ya tinggal pakai sedikit gula.
Hidup itu bagaimana kita mengolah dan mengaturnya. Mau seperti apa? Terserah kita ke arah mana dibawanya!
Kopi itu.. Aku!
Rasa kopi itu pada dasarnya pahit, apalagi jika bubuk kopi itu dimakan langsung. Tak hanya itu, tekstur kopi yang hitam legam menyimpan sebuah pesan yang begitu dalam. Aku adalah analogi dari kopi, yang memiliki rasa pahit dan berwarna hitam. Tapi karena kopi itu dicampur dengan campuran lain, maka teksturnya sedikit berubah dan rasanya pun sedikit berubah.
Kopi yang tadinya pahit, seketika berubah menjadi manis. Tidak hanya manis, tetapi menciptakan rasa yang luar biasa pas, sehingga menimbulkan sebuah kenikmatan bagi siapa yang meminumnya. Kopiku adalah kopimu juga!
Aku dan Kopi
Aku mengenal kopi dari seseorang yang begitu istimewa dan luar biasa. Sosok yang begitu disegani dan banyak memberikan inspirasi dalam hidupku. Bapakku lah orangnya. Meski bapak suka kopi dan merokok, tapi aku tidak ingin menjadi orang yang suka ngopi dan juga merokok. Dan orang yang melarang keras untuk kedua hal ini, adalah ibuku.
Kopi hitam, itulah kesukaan bapak. Tidak perlu campuran gula. Cukup satu sendok kopi diseduh dengan air panas dan dinikmati pagi hari. Kopi menjadi sajian yang kedua kalinya, ketika istirahat tengah hari, biasanya selesai shalat dzuhur.
Kopi, tersedia berbagai macam nama dan merek. Kopi yang paling disukai bapak, adalah kopi asli. Kopi yang dipetik dari pohonnya langsung dan diolah dengan cara tradisional. Semuanya dilakukan sendiri dan tidak ada satupun bahan campuran. Sehingga kualitas kopi yang dihasilkan cukup baik.
"Dan, kopi yang nikmat itu dibuat dengan menggunakan hati..."



Tidak ada komentar: